Posted by: @gust Nasihin | August 23, 2008

Peringatan 17 Agustus 2008, Sudah merdekakah kita?

Peringatan 17 Agustus 2008, Sudah merdekakah kita?

Ada satu hal yang menarik untuk di renungkan dalam peringatan hari kemerdekaan kali ini, kita mungkin masih ingat waktu di sekolah setiap hari senin mengadakan upacara bendera dan selalu membaca pembukaan UUD’45 kalau tidak salah pada alinea kedua begini bunyinya:

*Dan atas pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentousa, MENGHANTARKAN RAKYAT INDONESIA KEDEPAN PINTU GERBANG KEMERDEKAAN INDONESIA. Konon telah terjadi perdebatan sengit antara presiden Sukarno dengan rekan perumus proklamasi lainya bahwa, “kenapa kedepan pintu gerbang?, kenapa tidak ke dalam kemerdekaan”, namun Presiden Soekarno dengan sedikit nada tinggi ,kedepan pintu gerbang. Titik. Hal tersebut menjadi suatu kata keramat mungkin seperti sekarang inilah yang telah dirasakan oleh sebagian rakyat Indonesia. Mengapa?

Kasus Pertama,

Pertambangan minyak dan gas Cepu, Blora jawa Tengah misalnya, walaupun sedemikian besarnya penghasilan dari hasil tambang yang bisa di ambil dari daerah tersebut namun, seperti pernah ditayangkan di televise swasta bahwa didaerah itu yang nota bene mempunyai hasil tambang melimpah, namun banyak rakyat miskin dengan kondisi  rumah terbuat dari bamboo dalam keadaan reyot bahkan bisa dikatakan gubuk dengan fasilitas jalan yang rusak oleh truk-truk besar yang lewat daerah pertambangan.

Kasus Kedua,

Pertambangan batu bara dan Emas di daerah Papua, bertahun-tahun dan bermilyar-milyar hasil tambang batu bara dan Emas di hasilkan di daerah itu namun, kesejahteraan daerah sekitar tambang yang menyedihkan, kondisi sandang, pangan papan mereka tak sedikitpun mencerminkan penduduk dari daerah penghasil tambang emas dan batu bara terbesar di Indonesia.

Dari kenyataan seperti tersebut diatas maka jangan dikeluhkan kalau sekarang terjadi persoalan yang sedang diangkat kepermukaan tentang tidak dibayarnya royalty kepemerintah dari para investor tambang sehingga disinyalir terjadi penunggakan pajak dan royalty besar-besaran, sungguh ironis memang, kemanakan hasil tambang tersebut, mungkinkah diekspor keluar negeri dan hasilnya dinikmati oleh sebagain orang saja?!

Demikian juga sekarang krisis energi minyak, harga minyak yang melambung tinggi,minyak tanah hilang dari pasaran, kemanakah hasil tambang di tanah air, mungkinkah diekspor semua sehingga rakyat hanya menikmati SISA nya saja?!

Di dewan tinggi Negara berpesta uang milyaran sementara di daerah rakyat yang mungkin saat masih muda ikut mengangkat senjata melawan penjajah, ikut merasakan pahit getirnya jaman penjajahan, makan nasipun kadang-kadang, namun sekarang masih harus berjuang berdesak-desakan antri mengharap BLT yang cukup untuk makan beberapa minggu?

Di stasiun TV swasta setiap malam disajikan sinetron yang terlalu didramatisir sehingga seolah–olah seperti itulah kehidupan keluarga-keluarga Indonesia yang selalu banyak tipu muslihat,kekerasan rumah tangga,pertengkaran sejak usia sekolah, saling pamer kemewahan.

 

Peringatan 17 Agustus selalu kita peringati dan bagaiman para pemimpin dari tahun ketahun bisa meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyatnya dengan beberapa cara, misalnya:

-Menyediakan perumahan murah, Contoh di Bogor ada pemuda 23 tahun bersama teman-temanya dengan modal sendiri menyediakan perumahan murah, uang muka 1,5 juta dan angsuran 90 ribu perbulan, sehingga banyak rakyat miskin terbantu, dibandingkan developer yang lain perumahan yang di orbitkan untuk orang-orang kaya saja, per unit dijual 300 an juta dan angsuran 2 jutaan

 -Menyediakan harga kebutuhan pokok murah, sekarang harga-harga sudah naik 10 kali lipat dari sepuluh tahun lalu jadi diperkirakan setiap tahun 100% kenaikanya, atau penurunan nilai mata uang rupiah 100% pertahun sendiri, sekarang seribu seolah seratus rupiah jaman sepuluh tahun lalu, nanti 1 juta seperti seribu tahun tahun kedepan.

-Menyediakan sekolah dengan gratis kepada rakyat untuk semua kalangan tanpa pandang bulu, sperti di Amerika misalnya, semua anak dibebaskan biaya sekolah, sehingga semua anak usia sekolah bisa sekolah.

-Untuk Lapangan kerja, pastikan rakyat memiliki pendidikan yang cukup dulu tanpa kesulitan biaya sehingg rakyat bisa menciptakan lapangan kerja sendiri nantinya.

Bila semua rakyat pintar pasti bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, tanpa harus bergantung pada pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja.

 

Demikian ulasan 17 Agustus 2008, semoga lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari sekarang. Salam “MERDEKA!”

 

 

Agust Nasihin,Penulis aktif di blog ,meresensi buku, membuat ringkasan tulisan dan artikel-artikel lainya, Anda bisa bergabung di http://id.shvoong.com/aff-5398E/ atau berkunjung di http://id.shvoong.com/tags/agust-nasihin/


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: