Posted by: @gust Nasihin | August 11, 2008

Rasa Syukur dari sudut pandang yang lain.

Rasa syukur bisa datang dari sudut pandang.

 

Seringkali orang salah dalam menilai akan nilai syukur dengan apa yang diraihnya.

 

Cerita pertama

 

Seorang ibu rumah tangga selalu mengeluh ini dan itu , yang capek mengurus anak lah, yang kurang uang belanja lah, yang rumah berantakanlah yang semuanya membuat frustasi ibu rumah tangga itu. Suatu saat sang suami pulang kantor agak larut dan sang istri marah-marah. Sang suami dengan sabar menyikapi dan mengajak main-main anak-anaknya dari pada harus melayani perdebatan yang tidak perlu. diam-diam sang istri (A) berkonsultasi dengan teman-temannya yang tinggal didaerah lain yang sudah menikah juga via telepon. Temanya bercerita mengenai rumah tangganya, Ia ditinggal suami keluar negeri di kapal pesiar dan setahun sekali pulang, itupun cuma beberapa minggu kemudian balik lagi, hal itu mulai sejak awal perkawinanya. Sang istri mengasuh anaknya sendiri, ia merasa kesepian karena tidak ada canda dari sang ayah dengan anak-anaknya. Dia harus mengisi hari dengan hari-hari yang terasa sepi tanpa kehadiaran sang suami. Mendengar cerita itu sang istri(A) merasa bersalah telah memarahi sang suami dan anak-anaknya. Bisa dibayangkan bila rumah itu selalu rapi, tidak ada kegaduhan,tidak ada cucian di kamar mandi, tidak ada cucian di wastafel. Berarti rumah itu tidak ada anak-anak dan suami. Sang istri pun bersyukur kembali dan merasa ikhlas mengurus rumahnya, sejak itu bila rumah berantakan sang istri pun merasa bersyukur, (ada kehidupan dirumah itu)

 

Cerita Kedua

 

Seorang bapak bercerita bahwa saudara-saudaranya banyak dan sudah berhasil semuanya (sudah bekerja dan berumah tangga). adik pertama sudah lulus sekolah kedokteran dan menjadi dokter umum di rumah sakit setempat . adik kedua sudah selesai kuliah arsitek dan menjadi arsitek di Jakarta, adik ketiga sudah selesai kuliah dan menjadi perawat dan bekerja di rumah sakit di Kalimantan dan bersuami seorang pegawai negeri. adik ke-empat menjadi bidan di rumah sakit di daerah.

 

kemudian saya berkata,”wah hebat sekali, adik-adik bapak bisa menjadi orang semuanya.

kemudian saya melihat bapak itu yang penampilanya sederhana dan biasa-biasa saja,

“maaf bila saya menyinggung bapak?, namun anda sebagai kakaknya hanya tinggal di kota sebagai karyawan swasta dan kos di kamar kecil,tentunya anda kecewa dengan anda sendiri?” kata saya.

 

apa jawab bapak itu ?

“bukan, saya tidak kecewa dengan keadaan saya, saya bersyukur dengan diri saya,karena

saya bisa membiayai sekolah adik-adik saya, saya menyisihkan sebagian gaji saya untuk buka usaha pertanian, dan tambak yang dikelola oleh adik-adik saya hingga selesai kuliahnya.

 

 

 

 

 

Agust Nasihin,Penulis aktif di blog ,meresensi buku, membuat ringkasan tulisan dan artikel-artikel lainya, Anda bisa bergabung di http://id.shvoong.com/aff-5398E/ atau berkunjung di http://id.shvoong.com/tags/agust-nasihin/ di https://goeswriting.wordpress.com

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: