Posted by: @gust Nasihin | March 13, 2008

Fenomena banjir melanda kota

  1. PENEBANGAN LIAR

Banyak oknum yang masih kurang mempunyai kesadaran akan dampak dari penggundulan hutan, yang tiada henti untuk melakukan penebangan liar untuk berbagai alasan klasik, dari sebagian orang yang mengenal hutan dan hidup dengan lingkungan hutan namun tidak memiliki sumber penghasilan lain maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menebang pohon-pohon lindung di hutan dan menjualnya ke pengepul kayu gelondongan, bahkan kadang malah di organisir oleh oknum-oknum sendiri yang mempunyai akses penyaluran kayu. Dalam sekala kecil maupun besar yang dilakukan terus menerus dalam jangka panjang, tanpa disadari saat musim hujan tiba,maka banjir tak terelakan. Hutan yang rimbun sebagai pelindung alami sehingga tidak terjadi banjir, namun karena pembukaan hutan menjadi daerah pemukiman atau pabrik, atau explorasi pertambangan dalam sekala besar mengakibatkan air hujan tidak bisa diserap dan kemudian banjir pun melanda semua kota.Seperti daerah-daerah di Jakarta, karena alam didaerah pegunungan bogor yang semakin berkurang karena adanya pembangunan fila-fila dan daerah wisata, mengakibatkan air sebagian besar tidak bisa lagi diserap dan langsung kesungai akibatnya debit air sungai naik takterbendung dan membanjiri kota-kota sekitarnya yang elevasinya tanahnya rendah.

 

  1. SALURAN DARAINAGE YANG BURUK

Semakin meningkatnya pembangunan bangunan-bangunan fisik sebagai kelengkapan infastruktur kota modern sangat membantu memenuhi fasilitas hidup masyarakat di daerah perkotaan,namun apa jadinya bila tidak didukung oleh perencanaan drainage yang baik sesuai standar drainage yang umumnya telah dipakai di negara-negara maju,yang sistem aliran drainage yang satu dengan lainya terhubung dengan baik hingga menuju saluran pembuangan air induk.Sementara banyak pengembang daerah perkotaan mungkin lebih mengutamakan daerah atau proyeknya sendiri-sendiri, sehingga sistem drainagenya pun sendiri-sendiri sehingga tidak bisa saling mengalirkan aliran air dari masing-masing tempat, sehingga terjadi luapan air yang menyebabkan meluapnya air di kota, apalagi ditambah curah hujan yang tinggi semakin membuat drainage perkotaan lumpuh. Sehingga perlu adanya perbaikan system drainage perkotaan. Di negara-negara maju seperti Jepang misalnya, walaupun diatas permukaan tanah hampir semuanya terdiri dari bangunan beton seperti gedung maupun jalan aya yang beraspal, namun karena dibawah tanah telah dibuat terlebih dahulu lorong-lorong besar sebagai saluran drainage induk di kota, sebesar apapun cuah hujan tidak akan mengakibatkan banjir.

 

  1. MANAJEMEN PEMBUANGAN SAMPAH YANG SALAH

Kemudian didukung oleh sistem pembuangan sampah yang sudah teratur, misalnya hampir di setiap jalan raya dengan , pemberhentian bus, kereta ataupun ditempat-tempat umum yang banyak dipadati pengunjung, pasti telah tersedia tiga tong sampah yang di siapkan menjadi satu kesatuan. Tiga tong sampah masing-masing untuk sampah Plastik, Kaleng, dan Kertas. Untuk kemudian masing-masing sampah nantinya akan di olah kembali sesuai jenisnya masing-masing, untuk kemudian didaur ulang menjadi barang yang berguna, misalnya sampah kertas diolah kembali menjadi kertas yang bisa dipakai lagi, sementara sampah kaleng diolah kembali menjadi barang-barang produk baru atau kaleng-kaleng minuman dan makanan baru, sementara sampah plastik diolah kembali menjadi produk-produk yang bisa dipakai kembali untuk keperluan masyarakat. Sehingga terjadi perputaran siklus yang baik. Barang baru setelah dipakai menjadi barang bekas, dibuang diolah kembali menjadi barang baru, kemudian dipakai kembali dan seterusnya, sehingga pengolahan sampah yang baik dan benar tidak akan menimbulkan masalah baru. Sementara di Indonesia masih sedikit tempat-tempat sampah yang mengharuskan orang untuk memilahnya, untuk kemudian ada unit pemerintah atau swasta ,berupa pabrik pengolahan sampah atau daur ulang sehingga banyak sampah palastik yang tak terurai dan tak terdaur ulang, menghambat saluran drainage dan kali-kali di kota-kota besar, dampaknya sudah bisa dirasakan hampir setiap musim hujan terjadilah banjir besar. Contoh kasus adalah di Kota Jakarta, Kota yang dahulu menjadikan pilihan setiap orang untuk mencari hidup lebih baik, sekarang menjadi momok menakutkan karena tiap tahun pasti orang kebanjiran, yang merupakan bukan impian setiap orang yang harus dibuat repot dirumahnya sendiri tak peduli rumah orang miskin maupun rumah orang kaya semua terkena banjir. Lihat di Kali Ciliwung , kali yang sebenarnya untuk mengalirkan air, kini menjadi tempat untuk mengalirkan sampah, sungguh suatu pemandangan yang sangat buruk, lihat dipintu air Manggarai, sampah menumpuk berton-ton setiap hari, itu semua ulah manusia sendiri yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah, bukan semata-mata mengalirkan air yang jernih. Di negara maju, sungai sungai yang mengalir di tengah kota dijadikan obyek wisata, semua orang bisa duduk-duduk ditepi sungai bahkan diberi tempat-tempat kusus duduk untuk umum, sambil mengamati aliran sungai yang bersih, menjadi alternatie oang untuk beristirahat dan melepas kejenuhan di kota. Tidakkah semua itu menjadi contoh untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah?.

 

  1. DAERAH PERESAPAN YANG MAKIN BERKURANG

Daerah hijau atau disebut sebagai daerah peresapan air semakin-hari semakin berkurang karena memang semakin berkembangnya daerah perkotaan, sehingga pembangunan rumah huni maupun perkantoran meluas ke daerah-daerah peresapan kota, sehingga yang tadinya daerah rawa-rawa menjadi daerah beton dan beraspal. Bila tanpa diiringi sistem pembuangan air atau drainage perkotaan yang baik, jelas akan menimbulkan banjir masuk kota. Perlu saluran drainage berukuran besar dan baik menuju daerah peresapan yang akan mengalirkan air dari tengah-tengah kota sehingga saat curah hujan tinggi pun tidak akan terjadi banjir, karena air telah mengalir ke daerah peresapan air atau pembuangan air.

 

  1. PEDULI LINGKUNGAN YANG KURANG

Kepedulian masyarakat yang masih kurang terhadap masalah perlindungan lingkungan, semua orang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan masing-masing tanpa adanya suatu instansi pemerintah atau masayarakat yang kusus menangani lingkungan. Setidaknya bisa diawali dari masing-masing individu masyarakat di rumah masing-masing untuk menanam tanaman di lingkunganya sebagai bentuk peduli lingkungan sehingga bisa membantu pelestarian lingkungan hidup, sehingga diharapkan bajir pun tidak terjadi.

Seperti contoh di atas, masyarakat di tepi sungai Ciliwung menjadikan sungai sebgai tempat pembuangan sampah merupakan cermin bahwa belum ada mentalitas intelektual untuk peduli terhadap lingkunganya sendiri. Tak disalahkan jika suatu saat menjadikan sampah sebagai penyebab terjadinya banjir besar, sehingga masyarakat sendiri yang dibuat susah karenanya.

  

  1. PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global seperti telah diadakanya konferensi pemanasan global di Bali awal tahun kemarin, membahas penyebab sekaligus mendiskusikan bagaimana menaganinya dengan bersedianya semua negara-negara maju maupun berkembang untuk membatasi sumber-sumber pemanasan global, seperti pabrik-pabrik bertenaga nuklir dalam sekala besar yang dalam jangka panjang akan membuat suhu udara bumi memanas. Secara otomatis karena suhu udara naik mengakibatkan daerah-daerah yang selama ini tertutup es menjadi air dan mengakibatkan elevasi permukaan air laut pun naik. Sebagai dampak buruknya daerah-daerah pesisir pantai atau kota-kota disekitar pantai dengan elevasi permukaan rendah akan terendam banjir.

 

@gust Nasihin


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: