Posted by: @gust Nasihin | February 19, 2008

“Pengin Pintar? kok mahal!”

Dari hasil perbincangan dengan teman, soal biaya sekolah yang membumbung tinggi?, alasanya subsidi pemerintah terhadap pendidikan di hapus?, padahal bukankah sebelum penganggkatan presiden Yudoyono kemarin, kalau tidak salah akan di tambah anggaran dari RAPBN untuk pendidikan?,lalu  untuk masuk di Universiatas swasta uang masuk 10-15 jutaan.  Saya juga prihatin dengan biaya sekolah yang membumbung tinggi ini, bukankah sudah disindir di iklan TV”mau pintar kok mahal!” tetapi tidak ada hasilnya, malahan kemarin saya menanyakan biaya sekolah TK Swasta di Denpasar : biaya masuk Rp.4500.000, biaya SPP Rp 350.000 perbulan, biaya Seragam Rp375.000,
di tambah uang pemeliharaan Gedung Rp.1500.000,
Wah, ini baru TK , SD, SMP lebih mahal disekolah yang sama tersebut.
Bagaimana kalau di kritik dengan naskah buku ?…
mungkin judul bukunya”Pengin Pintar? kok mahal!” atau “Sekolah kok Mahal!!!” c

Bagaimana nasib anak-anak kurang mampu, apakah sekolah hanya untuk orang-orang kaya?!……..

Salam

A N


Responses

  1. Agust, untuk di Tanah Seberang, “keliatannya” sekolah dari SD sampai SMA gratis (sekolah negeri), padahal ini semua diambil dari pajak pendapatan orang tua murid yang besarnya 25%-40% tergantung dari jumlah penghasilan per tahun. Tempat tinggal saya karena kota yang baru berdiri, maka selain itu ditambah lagi USD 2.500 per tahun untuk biaya pendirian sekolah2 baru padahal saya dan suami belum dikaruniai anak, jadi kami memberikan subsidi untuk anak2 yang sekolah di kota kami.

    So, yang mana yang lebih mahal? Kalau dihitung2 di Indonesia toh pajak tidak terlalu tinggi dan malah bisa “didiskon” dengan berbagai cara, jadi masih mahal kah? Silakan dihitung sendiri.

    Jennie

  2. Oh, lupa disamping bayar pajak pendapat (income tax), pemilik rumah mesti membayar property tax (semacam PBB) sebesar 1%-1.7% dari harga market value terakhir plus USD 2.500 untuk kota baru. Jadi, kalau harga rumahnya USD 500.000, tiap tahun bayar pajak properti USD 5.000+USD 2.500 = USD 7.500 untuk biaya pendidikan dan sekolah anak2.

    Dari penghasilan, misalnya USD 60.000 per tahun, maka 30% dipotong untuk pajak pendapatan.

    Bagi saya pribadi, jauh lebih mahal biaya pendidikan yang “diasumsikan gratis” di luar negeri daripada biaya pendidikan “mahal” di Indonesia. Karena kita mesti bandingkan dengan seberapa besar kita bayar pajak di Indonesia. Semoga penjelasan ini membesarkan hati Agust.

    Jennie

  3. Ya, mba’ jennie, jadi biaya gratis pendidikan untuk anak sekolah diluar negri itu, sebenarnya sudah dibebankan kepada setiap individu rumah tangga dengan tingginya pajak dan tanpa pandang bulu, sudah punya anak atau belum, jadi kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih mahal kalau harus membayar pajak 30% pertahun. Sedangkan di Indonesia pajak pendapatan hanya 5% pertahun, tapi pendidikan dibiayai oleh masing-masing kepala rumah tangga.
    Ya, benar juga, tapi dengan pendapatan rata-rata perkapita yang rendah, menambah anak putus sekolah menjadi banyak.
    Jadi kesimpulanya, beda manajemen pendidikan:

    1. Di Luar negeri memaksa individu untuk membayar pajak tinggi untuk membiayai semua anak sekolah (gotong-royong, patungan untuk membiayai anak usia sekolah tanpa pandang bulu, dari keluarga mana datangnya, memungkinkan semua anak usia sekolah bisa sekolah sampai tamat)

    2. Di Tanah Air, tidak ada paksaan (Cuma 5%) membayar pajak, tetapi biaya pendidikan ditanggung masing-masing individu keluarga, sehingga timbul diskriminasi , anak-anak dari keluarga kaya bisa sekolah sampai tamat, sedangkan anak-anak orang kurang mampu hanya bisa sekolah sampai SD atau SMP saja, total keseluruhan jumlah anak sekolah yang bisa menamatkan sampai perguruan tinggi sedikit atau tertentu saja.

    Kalau disuruh memilih manajemennya , saya pilih yang pertama (diluar negri) semua orang tua dipaksa bayar pajak tinggi tapi jumlah total anak sekolah yang bisa tamat sampai perguruan tinggi banyak, disbanding system yang ke-2

    Bagaimana mba’ Jennie?

  4. Usul ini mungkin bisa Agust ajukan kepada calon presiden 2009. Tapi mungkin banyak yang kurang setuju karena besarnya potongan penghasilan untuk pajak. Kalau mau dicoba, tentu tidak ada salahnya.🙂

  5. Ya mba’ Jennie, tapi memang dilema, ya bila ada karya saya yang sudah menjadi buku nanti, perlu diajukan walau sebatas lewat artikel di media, nanti…

    Sekali lagi Thanks atas saran-saran dan motivasinya.

    Selamat menulis dan sukses selalu.

    Agust

  6. Saya menghaturkan selamat dan semoga sukses serta berkembang terus

  7. Sekarang lagi musim PILKADA, Hayo pilih calon muda yang masih fress dan mengangkat masalah pendidikan, kalau pemimpin bisa bilang pendidikan gratis bagi rakyat pastinya bisa diwujudkan, daripada di korup untuk kekayaan segolongan atau sekelompok orang saja bukan?…
    Pemimpin yang bisa memintarkan rakyat, bukan memintari rakyat bukan?….


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: